TenggaraNews.com, MUNA – Bupati Muna Barat, LM Rajiun Tumada, merupakan sosok pemimpin yang memiliki 4 unsur. Ke 4 unsur itu, yakni api, angin, air dan tanah. Unsur kepemimpinan ini lalu dimirip-miripkan gaya mantan Bupati Muna La Ode Kaimoeddin dan Maula Daud.
Hal ini diungkapkan Laode Naftahu, anggota DPRD Muna di hadapan warga Desa Liangkabori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, saat Rajiun Tumada menghadiri silaturahim, Rabu (31/7/2019).
Didepan pendukung Rajiun Tumada Lovers, Naftahu mengatakan silaturahim yang diselenggarakan di Desa Liangkobori adalah untuk menyambung kasih sayang antara warga dengan calon pemimipin yang tegas.
Dijelaskan, Rajiun adalah sosok pemimpin yang mempunyai hakekat kepemimpinan seperti sifat unsur api. Sebagaimana api, tidak pernah menyala ke bawah pasti ke atas.
Rajiun juga pemimpin yang sifatnya seperti angin, yakni rata karena tidak membedakan dirinya dengan rakyatnya. Kemudian seorang pemimpin seperti air yang selalu turun ke bawah, serta pemimpin seperti tanah yang selalu berada di bawah.
“Ketika seorang pemimpin memahami falsafah empat unsur itu dalam menjalankan pemerintahannya, sudah pasti pemimpin itu akan diterima oleh rakyatnya dan semua itu ada pada diri bapak Rajiun. Seorang pemimpin itu harus tegas jangan ketegasannya setengah-setengah, ” ucap Naftahu yang disambut tepuk tangan pendukung dari kalangan emak-emak.
Sekretaris Komisi III DPRD Muna ini mengungkapka, kepemimpinan di Kabupaten Muna yang mau berpihak dan melayani rakyatnya hanya ada di masa Bupati La Ode Kaimoeddin dan Bupati Maula Daud. Jika di refleksi, maka gaya kepemimpinan Rajiun Tumada dengan Kaimoeddin mempunyai persamaan satu sama lain.
“Menurut penglihatan saya mereka sama-sama tegas, selalu berpihak untuk rakyat kecil, hanya bedanya bapak Kaimoeddin tidak pernah tersenyum, sedang Rajiun selalu senyum. Olehnya itu hari ini harus lahir kembali Kaimoeddin ke dua yang juga nantinya akan menuju ke Provinsi Sultra,” ujar Naftahu
Dijelaskannya, ketika seorang pemimpin mempunyai niat untuk membangun daerah untuk kepentingan masyarakat banyak, maka calon pemimpin itu harus dibela mati-matian.
“Yang jelas tiada pilihan kita harus berjihad bersama-sama untuk mendukung pemimpin yang membela rakyatnya, ” pintanya.
Ditambahkannya, sebagai anggota DPRD Muna selama sepuluh tahun dirinya mengetahui keluhan dari masyarakat Liangkobori, Kondongia, Mabodo dan sekitarnya adalah masalah kekurangan air. Padahal dirinya telah memperjuangkan semua itu sudah lebih dari cukup, tapi lagi-lagi yang di butuhkan adalah satu kebijakan dari seorang bupati.
“ Manusia itu butuh air, butuh sentuhan pelayanan, butuh jalan, padahal air bersih itu tidak terlalu besar biayanya. Tapi yang dibutuhkan apakah berpihak kebijakannya kepada rakyat, namun sampai hari ini belum ada keberpihakan itu, baik di zaman dr. Baharuddin maupun di zaman Rusman Emba, ” paparnya.
Olehnya itu inilah yang perlu di cermati dan dijadikan pengalaman bagi masyarakat.
“Jangan lagi kita dibodohi, jangan lagi kita dikampanyekan yang pada akhirnya semua itu menjadi sirna, ” pungkasnya.
Laporan : Phoyo
Editor : Rustam









