TenggaraNews.com, KENDARI – Dibalik sebuah kesuksesan tentu tersirat sebuah cerita, baik kisah yang pahit maupun manis. Begitu pula yang dirasakan Yusuf Maulana, mantan pengamen yang kini meraih kesuksesan di bidang perhotelan. Ditemui awak TeggaraNews.com di ruang kerjanya, GM Plazza Inn Hotel Kendari itu menceritakan semua getir kehidupan yang dijalaninya sebelum berada di titik saat ini.
Pencapaiannya saat ini di luar dugaan anak bungsu dari enam bersaudara tersebut. Sebab, jika dilihat dari background pendidikannya yang merupakan alumni STM Elektronika Angkasa di Lanud Sulaeman Bandung, maka bisa dikatakan apa yang dijalaninya sekarang memang tak ada nyambungnya.
Selain itu, pria kelahiran Bandung 17 Mei 1983 ini mengaku sempat bermain musik di jalanan dalam waktu yang cukup lama. Aktivitas bermusik tersebut dijalaninya sembari menyelesaikan study disalah satu universitas di Bandung. Tak hanya itu saja, Yusuf juga mulai bekerja disebuah hotel, pada setiap akhir pekan yakni Sabtu dan Minggu (Part Time) dengan honor Rp 7 ribu per hari. Meski dibayar dengan upah yang relatif murah, namun dirinya menikmati aktivitas barunya itu dengan penuh semangat, karena Ia sudah berada di dalam hotel kala itu. Sementara trendnya waktu itu, untuk masuk hotel saja mayoritas masih pada malu-malu.
Berstatus sebagai pekerja part time di hotel, menjadi titik balik bagi dirinya sehingga bisa berada di dunia parawisata. Kecintaannya terhadap sektor perhotelan juga didukung dengan aktivitas perkuliahan disiplin, pakai jas, dasi dan sangat rapi. Sehingga Ia merasakan lingkungan pekerjaan yang berkaitan dengan kesehariannya di universitas. sementara jika dibandingkan dengan fakultas atau universitas lain, yang dimana mereka diberi kebebasan untuk menggunakan pakaian bebas, pakai tas dan celana compang-camping.
“Yah seperti itulah, bagaimana saya bisa masuk ke dunia perhotelan. Tapi ini bukan mendiskreditkan yang lainnya yah,” ujar Yusuf.
Dengan senyuman khasnya, ayah dua putri ini kembali melanjutkan cerita yang mengesankan baginya. Meski hanya menjadi karyawan panggilan seminggu sekali, tapi dirinya serius menjalani profesi yang menjadi titik balik, dimulai dengan training di Sheraton Bandung Hotel and Towers, salah satu hotel bintang lima di Bandung
di kawasan Dago, sebagai cleaning service. Kemudian, sejumlah posisi di perhotelan sudah pernah dijalaninya, seperti room attendant, laundry attendant, mini bar attendant hingga gardener.
“Dari situ saya mencoba untuk mencari pengalaman lain, saya juga pernah kerja di Wueen Restoran salah satu Restoran Chinese di daerah Bandung, hampir delapan bulan saya kerja di sana, kebetulan saya orangnya suka tantangan. Jadi, kalau sudah bisa pekerjaan tertentu, saya pengen tantangan lain lagi,” terangnya.
Dari Bandung, Yusuf melanjutkan petualangannnya ke Bali. Dengan modal nekat dan berbekal skill di bidang room division dan F & B, Ia menjalani semua tantangan hidup kala itu, rasa putus asa sempat dirasakannya karena tak memiliki sanak saudara maupun kenalan di Pulau Dewata. Apalagi, dia merantau dalam usia yang relatif muda yakni 21 tahun. Seiring perjalanan waktu, Yusuf dapat memahami kondisi di perantauannya tersebut, bahwa Bali tak jauh beda dengan Jakarta, jika tidak ada koneksi dan lain-lain maka akan terasa sulit.
Akibatnya, hal terberat dalam kehidupannya pun dirasakannya, Ia sampai diusir dari kos-kosan karena tidak ada perkerjaan. Kondisi sulit tersebut membawanya tinggal di Pantai Kuta dalam waktu yang cukup lama. Dirinya nge gembel sembari jualan manik-manik dan lain-lain.
Nasib baik mulai nampak ketika dirinya bertemu dengan salah seorang teman di kampus, yang sedang training di
Bali. Alhasil, dia pu diajak pindah ke Jimbaran, kemudian Yusuf dapat part time di The Hotel Ritz Carlton, hotel five star diamond alias bintang lima berlian. Sebagai bintang lima berlian, hotel tersebut memang benar-benar bintang
lima yang sangat mahal sekali, standarnya sangat tinggi. Dan meski sebagai Daily Worker (DW) tapi proses interview pun dirasakan begitu berat. Ia diposisikan di Banquet wedding, jadi begitu pintu masuk pertama saja sudah sangat sulit, karena semuanya harus Bahasa Inggris.
Seiring dengan waktu,Yusuf mampu menjalani aktivitasnya secara bertahap, hingga dirinya diangkat sebagai karyawan. Namun, perjalanannya tak seindah dan semulus seperti yang diharapkan, karena saat cuti pulang ke
Bandung, pria yang hobi olahraga futsal dan basket ini mengalami sebuah kecelakaan, menyebabkan setengah dari tubuhnya hampir mati rasa, sehingga memaksa dirinya untuk resign dari The Hotel Ritz Carlton.
Kondisi tersebut membuatnya tak lagi bergelut di sektor perhotelan. Setelah sembuh, Yusuf kemudian menjalani suasana barunya sebagai seorang suami, setelah menikahi wanita pujaan hatinya. Meski sudah berumah tangga dan telah sembuh dari penyakitnya, tak lantas membuatnya balik lagi ke dunia perhotelan, Ia lebih memilih untuk bekerja di pabrik hingga anak pertamanya lahir. Setelah itu, dirinya memutuskan balik ke Bandung dan menjadi titik awal baginya kembali bekerja di perhotelan, di Novotel Bandung sebagai room attendant, lalu naik menjadi team leader.
Karirnya dilanjutkan di Arion Swissbell Hotel Bandung pada tahun 2009 lalu, di hotel tersebut, Yusuf sempat jabat
senior supervisor. Setelah itu, dirinya menjabat Asisten Eksekutif Housekeeper. Sebuah kerja keras yang penuh dengan totalitas ditunjukannya, sehingga dirinya dipindahkan ke Swissbell Tarakan.
Dalam menjalani rutinitasnya, Yusuf selalu menunjukan kesederhanaan dan terkesan tak memiliki apa-apa. Ada pepatah yang selalu diterapkannya, yakni setiap bertemu sesorang dirinya sering mengosongkan gelas. Artinya, ketika dirinya ngobrol sama seseorang, Ia nampaj tidak memiliki apa-apa, sehingga dia bisa menyerap ilmu mereka.
“Jadi istilahnya itu, Big a well become you interesting, yang berarti galilah sumur sebelum kamu haus. Artinya, saya ini terus menggalih walaupun saya sudah menjadi GM saat ini, mau sama staf atau orang lain pasti saya terbuka orangnya,” terangnya.
Saat ditanya soal hal yang berkesan ddalam hidupnya, Yusuf mengaku emua berkesan. Di dunia perhotelan
tantangannya semua hampir sama, misalnya handling guest complain yang harus koordinasi pada owner, hal seperti tersebut jadi sudah biasa. Sedangkan persoalan keluarga, dia berkomitmen sama keluarga sejak awal, yang terpenting adalah komunikasi meski menjalani long distance, dirinya menjalani rutinitas di daerah lain, sedangkan keluarganya tinggal di Bandung
“Karena kita sudah komitmen bahwa kita ini bekerja profesional, tiap hari saya komunikasi dengan istri dan anak-anak setiap hari,” jelas Yusuf. (***)
Profil
Nama : Yusuf Maulana Mana
Tempat Lahir : Bandung
Tanggal Lahir : 17 Mei 1983
Anak ke : 6 dari 6 bersaudara
Riwayat Pekerjaan :
* Sheraton Hotel Bandung (2002-2003)
* Queen Restaurant Bandung (2003)
* Imperium Hotel Bandung (2004)
* The Ritz Carlton Bali Resort and Spa (2005-2006)
*Novotel Bandung (2006-2008)
* Arion Swissbell Bandung (2008-2011)
* Swissbell Tarakan (2011-2012)
* Travellers Hotel Sentani Jayapura (2012-2013)
* Swiss Bellinn Panakkukang Makassar (2013-2014)
* Swissbell Hotel Harbour Bay Batam (2014-2015)
* Swiss Bellinn Batam (2015-2016)
* Swissbell Mangga Besar (2016-2017)
*Plaz Inn Hotel Kendari (2017-sekarang)








