TenggaraNews.com, KENDARI – DPP Lembaga Adat Tolaki (LAT) menyikapi pernyataan salah satu ustadz di Kecamatan Wundulako, Kabupaten Kolaka saat memberikan ceramah pada 5 Maret 2020 lalu.
Dalam ceramahnya, Ustadz Muzakir menyebutkan bahwa adat mosehe merupakan bagian dari perbuatan syirik.
Ketua DPP LAT, Masyur Masie Abunawas (MMA) menegaskan, bahwa pernyataan Ustadz Muzakir telah menyinggung keluarga besar Tolaki, yang selama ini menjadikan adat “Mosehe” bagian dari tradisi turun temurun.
“Pernyataan seorang ustadz yang cukup dikenal dan kharismatik, sangat menyinggung perasaan kami,” tegasnya, Senin 9 Maret 2020.
Menurut mantan Wali Kota Kendari ini, mosehe merupakan suatu yang penting dan sakral. Bahkan, tradisi ini sudah ada sebelum islam masuk. Mosehe dilaksanakan sesuai dengan adat dan syariat agama.
“Mosehe diakui oleh pemerintah. Mosehe merupakan suatu tradisi yang telah membudaya. Mosehe ini dilakukan dalam rangka perdamaian,” ungkapnya.
MMA mengakui, bahwa pihaknya telah melaporkan perihal tersebut ke Mapolda Sultra. Meski beberapa kerabat Ustadz Muzakir telah menghubungi DPP LAT untuk menempuh jalur perdamaian, namun pihaknya mematikan tak akan mencabut laporan tersebut.
“Memang ada keluarga ustadz yang mencoba mengkomunikasikan ke kami, tapi saya sampaikan, bahwa akan saya koordinasikan dulu ke teman- teman pengurus LAT,” jelasnya.
MMA menerangkan, bahwa tradisi Mosehe bukanlah sebuah ritual yang berkaitan dengan hal ghaib, melainkan kepada sang pencipta.
Di tempat yang sama, Bidang Hukum DPP LAT, Khalid Usman SH., MH mengatakan, bahwa pihaknya tengah mempersiapkan untuk mengahdirkan saksi ahli, baik ahli agama maupun bahasa.
“Beberapa akun facebook yang menyebarkan rekaman ceramah Ustadz Muzakir juga akan dipanggil,” katanya.
Khalid Usman juga menambahkan, DPP LAT mendorong Polda Sultra untuk menangani laporan tersebut secara profesional.
Laporan: Ikas









