TenggaraNews.com, KENDARI – Publik Kabupaten Buton Tengah (Buteng) digemparkan pemberitaan dugaan pemerasan terhadap Kepala Desa (Kades) Lolibu, Sahrul Asmi yang diduga dilakukan oleh dua orang oknum wartawan di daerah tersebut, Senin 13 Mei 2019 malam.
Akan tetapi, ada hal janggal dalam pemberitaan di media, karena hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari pihak Polsek Lakudo, yang dikabarkan melakukan penangkapan terhadap kedua oknum wartawan tersebut.
Apalagi, dalam pemberitaan disejumlah media lokal, juga tak memuat pernyataan dari kedua oknum wartawan yang diberitakan. Padahal, berdasarkan keterangan dari salah satu oknum wartawan, HS kepada redaksi TenggaraNews.com, para jurnalis yang mewartakan perihal tersebut sempat bertemu dirinya di Kantor Polsek Lakudo.
Saat itu, kata HS, dirinya sempat meminta agar para pewarta tersebut bersabar, karena dirinya akan melakukan press conferensi pasca urusan ke pihak kepolisian selesai. Faktanya, tiba-tiba saja naik pemberitaan yang dinilainya tak berimbang.
“Saya juga merasa heran dengan sikap para teman-teman jurnalis itu. Saya mau lakukan klarifikasi, malah mereka lari ke tempat lain menulis berita. Makanya saya bingung juga mereka ini,” ujar HS, Selasa 14 Mei 2019 saat dikonfirmasi melalui selular.
Menurut dia, ada dugaan by design yang coba diatur oleh Kades Lolibu, Sahrul Asmi untuk menjebak dirinya bersama rekannya. Sebab, dalam sejumlah pemberitaan ditulis bahwa terjadi pemerasan, padahal yang selalu menawarkan nominal rupiah dalam setiap percakapan adalah Kades tersebut.
“Kepala desa ini mencoba menjebak, dengan tujuan untuk meredam dugaan kasus penyalahgunaan dana desa,” jelas HS.
Lebih lanjut, dia menjelaskan, Kades Lolibu selalu mengarahkan untuk pembicaraan uang. Akan tetapi, dirinya tidak terjebak dalam pembicaraan tersebut.
“Dia yang menawarkan, mau Rp5 juta, Rp10 juta dan Rp15 juta,” selalu begitu yang dia sampaikan.
Olehnya itu, jika memang benar ada bukti rekaman percakapan seperti yang diberitakan, HS meminta agar rekaman tersebut dibuka, sehingga dapat diketahui siapa sebenarnya yang meminta sejumlah uang, dan siapa yang selalu berbicara soal uanh dalam setiap percakapan.
“Jika memang ada bukti rekamannya, saya minta rekaman itu dibuka. Supaya kita tahu siapa sebenarnya yang bermain-main di sini,” tegasnya.
Terkait amplop yang dikabarkan berisikan uang Rp10 juta, HS mengaku, bahwa amplop tersebut tiba-tiba dibuang ke dalam mobil, dan dirinya kaget dan langsung membuang balik amplop itu ke luar. Disaat yang bersamaan, aparat kepolisian sudah ada di lokasi tersebut.
“Katanya, isi amplopnya Rp10 juta, waktu dibuka pihak kepolisian ternyata tidak cukup Rp1 juta. Memang ada grand design untuk menjebak kami,” pungkasnya.
Laporan: Ikas









