TenggaraNews.com,MUNA-Juru bicara (Jubir) Media Center LM. Rajiun Tumada-H. La Pili, Maliki La Ode, sangat menyangkan pernyataan jubir dari LM. Rusman Emba-Bahrun La buta, Sahrul, di salah satu media daring yang dianggap tidak relevan dengan tugasnya karena mengeluarkan statemen bahwa LM. Rajiun Tumada belum benar-benar sembuh.
“Sebaiknya saudara Sahrul memahami terlebih dahulu apa arti kata “negatif” dalam hasil pemeriksaan PCR yang dikeluarkan oleh pihak Rumah Sakit Bahteramas melalui Instansi Lab Patologi Klinik. Jelas Jubir tersebut menggambarkan orang yang tidak paham tentang ilmu kesehatan,”ucap Maliki La Ode, Rabu 16 September 2020.
LM. Rajiun Tumada menurutnya, berpegang teguh pada regulasi Kepmenkes Nomor HK.01.07/menkes/413/2020. Dimana, semenjak polemik terkonfirmasi Covid-19, mantan kasat Pol PP Provinsi tersebut lebih memilih diam di rumah dan melakukan aktivitas kesehariannya dengan berolahraga serta meluangkan waktunya untuk membersihkan kebun miliknya.
“Beliau (LM. Rajiun Tumada,red) pula banyak berkonsultasi dengan tim Gugus tugas Covid-19 Kabupaten Muna Barat. Dari klarifikasi yang kami himpun dari gugus Covid-19 Mubar bahwa Pak Rajiun hanya berstatus OTG (Orang Tanpa Gejala), bukan berstatus pasien. Hanya karena sebagai syarat pencalonan di KPU maka Pak Rajiun diwajibkan untuk melakukan SWAB,” katanya.
Wakil Ketua KNPI Provinsi itu mengatakan, seharusnya Sahrul paham berbicara dan jangan membawa hasrat politisnya ke dalam isu yang bukan gaweannya. Pasalnya, Pandemi Covid-19 adalah urusan gugus tugas dan segala pihak yang terkait.
“Jangan mengada-ada soal aturan protokol kesehatan. Itu bukan ranah dia sebagai jubir Paslon. Yang berhak untuk menyampaikan hal itu adalah gugus tugas atau tenaga medis yang dipercayakan. Kok bisa Jubir pemenangan Paslon memberikan pernyataan seperti jubir gugus tugas atau tim medis,” ujarnya.
Masih jelas dalam ingatan, kata dia, bahwa beberapa waktu lalu LM. Rusman Emba mengumumkan adanya penambahan jumlah kasus positif di Sultra dengan domisili Kabupaten Muna Barat yang juga bukanlah gaweannya sebagai ketua gugus Covid-19.
Menurutnya, hal tersebut sangat aneh, demi hasrat politik untuk dua periode dengan mudah mereka mempolitisir isu Covid dan berbicara diluar dari pada tanggung jawabnya.
“Kami mengetahui bahwa Isu Pandemi Covid-19 memang sengaja digoreng dan coba dimanfaatkan oleh mereka yang hari ini berlawanan politik dengan LM. Rajiun Tumada, dan kami tahu bahwa mereka berada di lingkaran Petahana saat ini,” jelasnya.
Sampai saat ini, lanjutnya, pihak petahana tidak mampu beradu program dan gagasan sehingga isu-isu hoax dan fitnah menyerang kepribadian figur, tentu hal tersebut menjadi senjata utama mereka di media.
“Tujuan mereka adalah ingin menjatuhkan nama besar RAPI, namun apa yang mereka lakukan membuat masyarakat semakin tidak percaya dan acuh dengan apa yang mereka ucapkan,” tandasnya.
Laporan : Phoyo









